Pendapatan Warga Pengelola Fasilitas Wisata Bromo Menurun
Meningkatnya aktifitas Gunung Bromo dan munculnya larangan bagi pengunjung Bromo berada di bibir kawah menyebabkan pendapatan dari sektor wisata kawasan ini menurun. Larangan ini berkaitan dengan status siaga yang berlaku di gunung ini.
Salah satu pemilik penginapan di kawasan Bromo, Tri Hartini mengatakan, pada setiap perayaan Kasodo biasanya dia mampu meraup uang ratusan juta rupiah dari wisatawan yang menginap di hotelnya. Tapi, kali ini pendapatannya anjlok menjadi puluhan juta rupiah. “Jauh dibandingkan tahun lalu,” katanya.
Penurunan pendapatan dari wisatawan ini juga dirasakan para padagang kaki lima. Biasanya mereka berjualan di sekitar Pura Luhur Punten Bromo, di sekitar kaldera Bromo.
Sementara itu, Kepala Seksi I Wilayah Konservasi Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Muharto mengatakan, pihaknya tidak bisa menutup kawasan Gunung Bromo secara total karena Bromo termasuk dalam kawasan taman nasional. “Kami hanya melarang pengunjung mendekati kawah dalam jarak 1 kilometer” ujarnya.
Ia mengatakan, pemasukan Dinas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru akan berpengaruh jika kawasan Gunung Bromo benar-benar ditutup total. “Tapi pemasukan kami tidak hanya dari Bromo, tapi juga dari Semeru dan seluruh kawasan taman nasional,” katanya. (tempointeraktif.com / 8 September 2006)




